Selasa, 27 April 2010

Paku

Paku di tonggak pintu pagar

Sebagai anak muda, saya berdarah panas sehingga menyebabkan saya melontarkan kata-kata atau berkelakuan tidak santun.

Pada suatu hari saya bertengkar dengan seorang teman, sehingga dia pulang sambil menangis.
Ayah berkata bahwa untuk setiap perbuatan saya yang tidak baik; ayah akan memasang paku pada tonggkat pintu pagar di depan rumah kami. Setiap kali saya berkelakuan ramah atau berbuat baik, beliau akan mencabut sebatang paku.

Bulan demi bulan berlalu. Setiap kali saya melintasi pintu pagar, saya diingatkan oleh jumlah paku yang semakin banyak terpampang di tonggkat pagar. Akhirnya mencabut paku menjadi suatu tantangan.
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu itupun tiba, hanya tinggal sebatang paku lagi saja. Saya menari-nari sewaktu ayah mencabut paku yang terakhir sambil, " Lihatlah Ayah, semua pakunya sudah tercabut!"
Ayah menatap tonggak pagar dengan pandangan tajam sambil menjawab dengan suara penuh perasaan, "Ya, semua paku sudah tercabut ------ tetapi bekasnya masih ada,"

Jika kutahu kata- kataku,
Yang tidak ramah dan palsu,
Mungkin meninggalkan bekas
Di wajah orang yg ku kasihi,
Pasti tak akan kuucapkan.
Bagaimana denganmu?

Jika aku tahu sengatan sepatah kata
Mungkin meninggalakn bekas,
Parutan yg mendalam
Di hati orang yang kukashi,
Pasti tak akan kuucapkan.
Bagaimana denganmu?

Salam....

Tidak ada komentar: